Berjalan dengan tongkat kesayangan di tangan
Melangkah menyusuri tepi dengan hati-hati
Kelopak matanya terbuka tapi ia tidak melihat dunia
Hanya menerawang mencoba menangkap bayang-bayang
Pagi itu, ia mencoba melihat mentari
Tapi hanya cahaya yang samar menerpa mata
Dan hanya hangat yang terasa mendekap jiwa
Pagi itu tetaplah malam, hari itu tetaplah kelam
Tiada keindahan pemandangan yang terlihatkan
Tiada ketakjuban akan goresan tangan Tuhan
Menikmati keelokan lukisan kehidupan
Hanya tersimpan dalam angan-angan
Yogyakarta …
Ketika melihat dua insan manusia yang buta
Berpegangan tangan, mencoba melintasi jalan kehidupan
Diantara berjuta mata yang benar-benar terbuka
Hanya sedikit yang 'melihat' dunia …
"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
……
Di musim penghujan, diatas dua roda yang berjalan
Mengiringi rintik tangisan yang lama aku nantikan
Akhirnya terlepaskan ketika berpapasan dengan dua insan
Yang berjalan tanpa penglihatan …