|
|
 |
 |
|
Wednesday, May 02, 2007
Menghitung Hari (Tersisa)
Lembaran hari kembali berganti,
waktu terus berlalu Tahun terus berjalan dan tidak akan pernah terulang Menyisakan berbagai kenangan cerita kehidupan Mencoba merenungi, meresapi dan menanyakan kembali
Apakah sudah terisi dengan begitu banyak arti Ataukah ternodai dengan begitu banyak lupa dan alfa Apakah dilalui dengan senyuman perjuangan Ataukah dilewati dengan begitu banyak kemalasan dan kesia-siaan
Kesempurnaan sulit ditemukan dalam kehidupan Bukanlah berarti diri harus menyerah dan pasrah Karena kehidupan merupakan sebuah perjuangan Untuk menyampaikan kebaikan dan menebarkan kebajikan
Hidup bukanlah sekedar lintasan waktu Hidup bukanlah sekedar pergantian hari Hidup bukanlah sekedar bilangan tahun Tapi hidup merupakan bilangan akan arti hidup itu sendiri
Menatap hidup kedepan, merangkai harapan dan impian Masa lalu menjadi pelajaran, supaya keburukan tidaklah terulang Berharap keindahan terasakan dan senyum kemenangan tersungingkan Semoga hari tersisa selalu terisi dengan kebaikan dan keberkahan
Posted at 04:37 pm by Mulyana
Permalink
Tuesday, May 01, 2007
Melepas Pergi Seorang Akhi
Hari-hari telah terlewati Saatnya kaki melangkah pergi Mungkin diri tak pernah kembali Tapi kenangan ini akan tetap di hati Beribu pengalaman besemayam di dada Tergores emas dalam lembaran jiwa Berjuta kebersamaan melekat di hati Terukir indah dalam bingkai sanubari Dalam dekapan erat kerinduan Potret kebersamaan ini pasti kami simpan Dalam pelukan hangat kecintaan Lukisan perjuangan ini pasti kami pajang Ketika rindu hinggap di kalbu Mengingatmu akan terasa penuh haru Ketika cinta membuncah di jiwa Persaudaraan kita akan terasa penuh makna Bagaikan malam tanpa taburan bintang Terlihat kelam tanpa jiwa yang terang Bagaikan pagi tanpa hangatnya mentari Terasa sepi tanpa kehadiran diri Rumah ini belum rampung kita bangun Tapi tangan kebersahajaan itu harus melambai pergi Perjalanan ini belum sampai pada tujuan Tapi kaki kebersamaan ini haruslah terhenti Pelangi itu harus memudar dari langit kita Tapi indahnya masih terlihat di pelupuk mata Mentari itu harus terbenam dari bumi kita Tapi hangatnya masih terasa mendekap jiwa Bunga ini harus dipetik dari taman kita Tapi harumnya masih menebar kedalam sanubari Pelita ini harus meredup dari rumah kita Tapi cahayanya masih menerangi relung hati Ada yang pergi dan takkan pernah terganti Ada yang hilang tapi akan selalu dikenang Semua berubah dan sungguh ini tak mudah Melepas diri yang begitu berarti bagi kami Beruraikan air mata kesedihan dan kebahagiaan Melepas pergi seorang akhi Bersenandungkan merdunya nada kebaikan dan kebajikan Perjuangan ini pasti akan kami teruskan Dengan ketulusan dan keikhlasan, doa kami menyertaimu akhi.
Posted at 06:27 pm by Mulyana
Permalink
Monday, January 29, 2007
Mencintai Ketidaksempurnaan
Namanya Dalika, baru beberapa bulan terlahir kedunia tapi harus sudah menerima kenyataan bahwa ia terlahir tidak sempurna. Hydrocephalus telah menggerogoti tubuh mungilnya, membuat kepalanya membesar melebihi usianya. Sudah beberapa hari ini Dalika tergolek tak berdaya di rumah sakit, di sebuah bangsal yang penuh sesak pasien yang menantikan pengobatan untuk memperbaiki keadaan. Orang tua Dalika memang termasuk masyarakat kurang mampu sehingga tidak bisa mengusahakan pengobatan yang cepat dan layak untuk Dalika. Tapi keadaan ekonomi tidak membuat mereka menyerah mengusahakan pengobatan untuk kesembuhan Dalika. "Kami menerima ujian dan cobaan ini, kami yakin ada hikmah yang Allah berikan kepada kami" ujar ayahnya yang setia menemani Dalika.
Dalika kini terbaring lemah dipelukan sang bunda, saya mencoba menyentuh tangan mungilnya tapi tak kuasa, membayangkan betapa berat beban yang ditanggungnya. Saya hanya bisa menatap mata mungilnya yang berbinar dan tak pernah pudar seolah memikirkan masa depan dan berjuta impian serta harapan yang bersemayam dalam dirinya. Saya yakin Dalika tidak akan pernah bimbang pada masa depannya karena cinta dan kasih sayang orang tuanya tidak akan pernah terhenti tercurahkan dan terlimpahkan untuknya melebihi ketidaksempurnaan yang ia miliki.
Lain lagi dengan Dani, usianya sudah dewasa dan tubuhnya terlahir serta berkembang sempurna tapi ia punya kebiasaan dan kepribadian yang tidak sempurna. "Dani itu orangnya pemalas, pokoknya saya ga suka sama dia" ujar salah satu temannya pada saya. "Dani itu susah kalo udah diajak kerja sama, dia lambat dan sering menunda-nunda, kita jadi susah dibuatnya" temannya yang lain ikut mengeluh. Saya hanya tersenyum mendengarkan keluhan teman-teman Dani, tidak berusaha menimpali atau memperpanjangnya karena saya yakin kalau diteruskan bisa lebih banyak lagi kejelekan dan keburukan yang diungkapkan.
Saya paham betul Dani, sebenarnya orangnya menyenangkan dan punya banyak potensi. Tak heran, banyak orang mengenalnya dan sering meminta bantuannya. Tapi seiring meningginya intensitas interaksi, ada beberapa orang sering mengeluhkan kekurangan dan kelemahan Dani bahkan ada juga yang menjauhinya. Tapi apakah dengan keluhan dan cercaan kepada Dani akan memperbaiki keadaan? Tentu tidak, bukan perubahan dan perbaikan yang didapatkan justru dosa yang didapatkan. Mungkin akan lebih bijaksana dan berguna bila disampaikan langsung kepada Dani sebuah nasehat yang menyejukkan dan bantuan untuk bisa merubah kebiasan buruknya bukan keluhan dan cercaan yang disebarkan kepada orang-orang. Memahami orang memang lebih susah karena kita cenderung lebih ingin dipahami, tapi berusahalah sebisa kita untuk memahami bukan untuk dipahami.
Dalika dan Dani mungkin hanya sebuah contoh potret manusia dengan segala atribut kelemahan dan kekurangan baik secara fisik ataupun non fisik. Ketidaksempurnaan memang akan selalu ditemui pada diri manusia karena kesempurnaan itu sendiri bukanlah milik manusia tapi milik Penciptanya. Namun adanya ketidaksempurnaan pada diri manusia bukanlah berarti untuk disesali dan dikeluhkan karena kita sendiri akan selalu hidup dengan berbagai ketidaksempurnaan itu. Ketidaksempurnaan bukan untuk tidak dicinta tapi cintailah ketidaksempurnaan dengan cara yang sempurna.
Bila ia tidak seperti yang kau bayangkan Bila ia tidak seperti yang kau harapkan Dengan segala kekurangannya Dengan segala kelemahannya Terimalah dan cintailah ia ... apa adanya
Untuk Dalika ... Kutulis dengan pena kesedihan yang dicelupkan dalam tinta linangan air mata.
Posted at 08:52 am by Mulyana
Permalink
Monday, January 22, 2007
Kebahagiaan Itu Ada Dalam Kesedihan
Dalam keheningan dan kesunyian malam Kuhadapkan jiwa dan raga ini Kubersimpuh dan bersujud untukMu Merenungi dan menyadari kekhilafan diri
Buliran air mata menitik Mengalir menyusur garis wajah ini Membasuh muka, membasahi hati Meluluhkan kalbu, melembutkan jiwa Aku temukan kebahagiaan ini Ketika mata beruraikan tangisan Ketika jernihnya hati mencerahkan jiwa Ketika diri sungguh merindu padaMu Kebahagiaan ... Tidak aku temukan dalam derai tawa Tapi aku rasakan dalam derai air mata Tidak aku temukan dalam keceriaan Tapi aku rasakan dalam kesedihan
Posted at 07:51 pm by Mulyana
Permalink
We Can't Feel What They Feel
Sempatkanlah, singgah ke gubuknya yang mulai lapuk. Lihatlah sekelilingnya, begitulah apa adanya. Pandanglah wajah sayunya dengan seksama karena guratan kelelahan itu tidak pernah menyiratkan keputusasaan untuk menyingkirkan beban-beban kehidupan yang selama ini menghimpit badan dan pikirannya. Sentuhlah dengan kasih sayang, usaplah dengan penuh kecintaan dan ulurkanlah tangan kepeduliaan, angkatlah beban itu sebisa dan semampu kita karena seringan dan sekecil beban yang terangkat dapat membuatnya semakin kuat menatap hari esok. "Kita tidak akan pernah bisa merasakan apa yang mereka rasakan"
Posted at 07:29 pm by Mulyana
Permalink
Kaki-kaki kecil itu berlarian di jalanan Bernyanyian lagu sendu kehidupan Berjualan harapan cerahnya masa depan Mengiba belas kasihan dan uluran tangan
Dibawah teriknya sinar mentari di siang hari Diantara laju deru kendaraan yang berlalu lalang Panas, debu dan asap menjadi santapan setiap hari Haus dan lapar terlupakan dengan kesibukan
Bertelanjang kaki menyusuri mimpi Wajahnya sayu mengguratkan kelelahan Menanggung beban kehidupan yang menghimpit badan Bajunya lusuh terbasuh peluh yang membasahi tubuh Tidak seharusnya ia berada di jalanan Tidak sepantasnya ia berjuang sendirian Karena jalannya masih panjang Dan masa depannya haruslah tercerahkan
Disaat yang lain membiarkan Disaat yang lain menelantarkan Bisikkanlah pada hati, tanyakanlah pada nurani Apakah Kita Peduli? Jambi, Tugu Juang, 25 Desember 2006. 4 Milad ke I OPSEZI ... Setahun mencoba menumbuhkan benih kepedulian
Posted at 12:57 pm by Mulyana
Permalink
Sunday, January 21, 2007
Bagaimana mungkin kita meninggalkan pergi seorang bayi yang belum bisa berdiri apalagi berlari. Bagaimana mungkin kita tidak mengulurkan tangan ketika ia begitu membutuhkan pegangan dan bimbingan.Bagaimana mungkin kita tidak melimpahkan dan mencurahkan kasih sayang, sedangkan kita telah membebankan setumpuk harapan dan sejuta impian untuk masa depannya. Bayi itu ada dalam dekapanmu, ada dalam pelukanmu, ada dalam buaianmu maka pandanglah, sentuhlah, rawatlah dengan penuh kelembutan, kesabaran, dan kecintaan karena bukan tangisan yang ingin kita dengarkan tapi senyuman yang membawa kebahagiaan pada semua orang. 4 Milad ke-1 OPSEZI … Setahun …. bayi itu telah kita besarkan bersama.
Posted at 01:29 pm by Mulyana
Permalink
Saturday, January 06, 2007
Bagaimana bisa kita berpangku tangan dan merasa tenang ketika masih banyak tangan pengharapan yang menantikan uluran tangan kepedulian, bagaimana bisa kita menikmati makanan ketika masih banyak perut dhuafa yang merasakan kelaparan, bagaimana bisa kita tertawa dan berbahagia ketika masih banyak air mata yang membasahi wajah dhuafa, bagaimana bisa kita tidur tenyak dan terlelap ketika masih banyak dhuafa yang terjaga dan mengiba kepada kita. Saudaraku .... masih banyak yang harus kita lakukan. Allahu Akbar !!!
Posted at 07:45 pm by Mulyana
Permalink
Friday, January 05, 2007
Kita sedang menyusun potret-potret kepedulian yang akan kita simpan dalam album kenangan kebersamaan, yang akan menceritakan beratnya pejuangan ini, yang akan menggambarkan berlikunya perjalanan ini, yang akan mengingatkan indahnya persaudaraan ini dan akan kita tutup album kita dengan senyuman kemenangan.
Posted at 07:43 pm by Mulyana
Permalink
Thursday, January 04, 2007
Ada kenikmatan ketika semua amanah ini tersalurkan dan terpastikan dengan penuh keyakinan, ketika kita melihat senyumnya, memandang riang wajahnya, mendengar tawanya ... resapkan kedalam jiwa, hujamkan ke relung kalbu, disini kita menemukan dan merasakan kenikmatan itu ... kenikmatan yang tak tergantikan.
Posted at 07:40 pm by Mulyana
Permalink
|
|
|